Aku memang tak tampan...
Aku juga tidak bergelimang harta..
Aku juga tidak bisa membeli cintamu.
Yang aku bisa hanyalah memandangimu,
Mengagumi..
Aku biarkan kau pergi dengannya..
Aku biarkan kau terbang jauh meninggalkanku,
Aku termenung, memandangi senyum indahmu..
Aku tersenyum, melihat tingkah dan gaya lucumu...
Aku menulis, menulis tentangmu... Dan dirinya..
Bukan dengan aku...
Bagiku, jika kau sudah menyadari kehadiranku,
Itu sudah cukup.
Mau kau anggap aku apa, aku terima.
Aku cuma ingin kau tahu, di sini aku menantimu.
Terus menantimu.
Tak lebih dari itu...
Jumat, 21 Oktober 2011
Terus Berlari
Satu detik.... Satu menit.... Satu jam.... Satu hari.... Satu Minggu....
Waktu terus berjalan, tidak bisa kuhentikan.
Tapi tetap bisa merubah perasaanku padamu..
Dia tetap dia. Dan kau, tetap Peri Cantik.
Tak perlu aku ulang lagi, rasaku padamu..
Lama sudah aku menunggumu..
Lama sudah aku menantimu...
Lama sudah aku memandangimu,
Dari jauh. Dari sini.
Tapi.... Apakau kau sadari itu?
Apakah kau rasakan itu?
Bosan ku menunggu, aku coba mengejarmu..
Namun, semakin cepat aku berlari,
Semakin jauh pula kau meninggalkanku.
Sampai kapan aku harus mengejarmu?
Sampai kapan aku harus membuatmu menyadari kehadiranku?
Biarlah waktu yang menentukan...
Menentukan, sampai kapan aku harus terus berlari,
Dan kapan aku harus berhenti..
Waktu terus berjalan, tidak bisa kuhentikan.
Tapi tetap bisa merubah perasaanku padamu..
Dia tetap dia. Dan kau, tetap Peri Cantik.
Tak perlu aku ulang lagi, rasaku padamu..
Lama sudah aku menunggumu..
Lama sudah aku menantimu...
Lama sudah aku memandangimu,
Dari jauh. Dari sini.
Tapi.... Apakau kau sadari itu?
Apakah kau rasakan itu?
Bosan ku menunggu, aku coba mengejarmu..
Namun, semakin cepat aku berlari,
Semakin jauh pula kau meninggalkanku.
Sampai kapan aku harus mengejarmu?
Sampai kapan aku harus membuatmu menyadari kehadiranku?
Biarlah waktu yang menentukan...
Menentukan, sampai kapan aku harus terus berlari,
Dan kapan aku harus berhenti..
Rabu, 19 Oktober 2011
Lebih dekat Denganmu
Kapan? Kapan? Kapan?
Kapan aku bisa lebih dekat denganmu..
Pujaanku.
Pemilik hatiku.
Kesempatan itu terus menjauh...
Seakan-akan aku memang tidak pantas untukmu..
Tidak pantas untuk memilikimu,
Hanya pantas untuk mengagumi dan menunggumu..
Kulihat, dan kuperhatikan tingkahmu yang lucu..
Gayamu yang ceria, membuatku tersenyum..
Cara jalan dan kehadiranmu itu, membuatku terpesona..
Aku salah tingkah sendiri tiap kau pandangi aku,
Diiringi senyum manismu.
Sungguh, senangnya hatiku melihatmu seperti itu.
Tak ingin rasanya, waktu cepat berlalu.
Meski waktu harus memisahkan, tapi aku tetap di sini..
Menunggu, dan terus menunggu..
Sampai ada lagi kesempatan,
Untuk membuatku lebih dekat...
Denganmu..
Kapan aku bisa lebih dekat denganmu..
Pujaanku.
Pemilik hatiku.
Kesempatan itu terus menjauh...
Seakan-akan aku memang tidak pantas untukmu..
Tidak pantas untuk memilikimu,
Hanya pantas untuk mengagumi dan menunggumu..
Kulihat, dan kuperhatikan tingkahmu yang lucu..
Gayamu yang ceria, membuatku tersenyum..
Cara jalan dan kehadiranmu itu, membuatku terpesona..
Aku salah tingkah sendiri tiap kau pandangi aku,
Diiringi senyum manismu.
Sungguh, senangnya hatiku melihatmu seperti itu.
Tak ingin rasanya, waktu cepat berlalu.
Meski waktu harus memisahkan, tapi aku tetap di sini..
Menunggu, dan terus menunggu..
Sampai ada lagi kesempatan,
Untuk membuatku lebih dekat...
Denganmu..
Kamu
Serasa hari ini kau ada disini..
Sebagai kawan baru kau mempesonaku....
Tingkahmu yang lucu...
Gayamu yang ceria...
Cara berjalanmu dan kehadiranmu itu...
Menggemaskan daku...
Membuatku malu dan tersipu-sipu...
Memerah pipimu...
Sungguh lucu kamu...
Senangnya hatiku melihat tingkahmu saat itu...
Kau ayu anggun penuh ceria...
Seakan tiada lagi tara...
Yang mewarnai dalam hati...
Dan menembus batas relung sukma...
Sungguh akupun tak menyangka...
Kau ada di hati...
Seandainya (andaikan) pada saat itu...
Usiaku telah mencukupi...
Tak tahu apa yang terjadi....
Denganmu dan dengan diriku...
Entah, kini mungkin bersatu dalam cinta....
Sebagai kawan baru kau mempesonaku....
Tingkahmu yang lucu...
Gayamu yang ceria...
Cara berjalanmu dan kehadiranmu itu...
Menggemaskan daku...
Membuatku malu dan tersipu-sipu...
Memerah pipimu...
Sungguh lucu kamu...
Senangnya hatiku melihat tingkahmu saat itu...
Kau ayu anggun penuh ceria...
Seakan tiada lagi tara...
Yang mewarnai dalam hati...
Dan menembus batas relung sukma...
Sungguh akupun tak menyangka...
Kau ada di hati...
Seandainya (andaikan) pada saat itu...
Usiaku telah mencukupi...
Tak tahu apa yang terjadi....
Denganmu dan dengan diriku...
Entah, kini mungkin bersatu dalam cinta....
Selasa, 18 Oktober 2011
Hujan
Deras, rintik hujan.
Yang tak henti, menemani.
Sunyinya hari demi hari,
Yang telah aku lewati.
Rintik hujan, membasahi tubuhku.
Ku pandangi dirimu yang terus menjauh,
Di depanku.
Ingin kugapai dirimu,
Ku genggam, dan ku peluk.
Entah kapan, itu terjadi.
Aku di sini terus membayangimu,
Selalu meneduhkanmu saat hujan,
Menghangatkanmu saat dingin,
Dan menyejukkanmu saat terik.
Entah kau sadar atau tidak,
Aku selalu menantimu.
Duduk manis di manapun tempat,
Hanya untuk terus menunggumu.
Yang tak pasti, untukku.
Biarpun harus diguyur dinginnya hujan...
Yang tak henti, menemani.
Sunyinya hari demi hari,
Yang telah aku lewati.
Rintik hujan, membasahi tubuhku.
Ku pandangi dirimu yang terus menjauh,
Di depanku.
Ingin kugapai dirimu,
Ku genggam, dan ku peluk.
Entah kapan, itu terjadi.
Aku di sini terus membayangimu,
Selalu meneduhkanmu saat hujan,
Menghangatkanmu saat dingin,
Dan menyejukkanmu saat terik.
Entah kau sadar atau tidak,
Aku selalu menantimu.
Duduk manis di manapun tempat,
Hanya untuk terus menunggumu.
Yang tak pasti, untukku.
Biarpun harus diguyur dinginnya hujan...
Senin, 17 Oktober 2011
Peri Baru
Aku terus berjalan,
Layaknya di tengah-tengah hutan yang gelap.
Kalau kau tanya alasan apa aku membuat itu,
Salahkan dia yang selalu aku tunggu.
Aku terus berlari mengejarnya,
Seakan-akan hanya dia lah yang dapat menjadi Bidadari hidupku.
Entah kenapa aku selalu menganggap aku hanya menginginkan satu dalam hidupku.
Biarpun banyak pilihan yang datang.
Ternyata aku salah.
Suatu hari, aku menemukan Peri baru yang bisa menyejukkan hatiku.
Peri itu selalu membuat hatiku tenang,
Bila dia ada di sampingku.
Perasaan nyaman, hangat, dan penuh cinta.
Aku menyebutnya Peri Cantik. Hanya aku yang tahu.
Rasanya, ingin sekali aku menggapainya, bukan hanya sebagai pelarian hatiku.
Bukan sebagai objek pelarian karena cintaku yang mungkin tak terbalas.
Bagaimana?
Itulah pertanyaan dalam hatiku yang bingung.
Menunggu itu bosan,
Apa salahnya jika aku mulai mencari jalan ke lain hati?
Dari pada aku terus menjaga hati yang tak terbalas,
Peri itu terkadang dekat denganku, dan aku senang.
Namun terkadang menjauh, dan begitu jauh.
Aku terapit diantara dua pilihan..
Terus menunggu dia, atau coba menggapai Peri Cantik.
Layaknya di tengah-tengah hutan yang gelap.
Kalau kau tanya alasan apa aku membuat itu,
Salahkan dia yang selalu aku tunggu.
Aku terus berlari mengejarnya,
Seakan-akan hanya dia lah yang dapat menjadi Bidadari hidupku.
Entah kenapa aku selalu menganggap aku hanya menginginkan satu dalam hidupku.
Biarpun banyak pilihan yang datang.
Ternyata aku salah.
Suatu hari, aku menemukan Peri baru yang bisa menyejukkan hatiku.
Peri itu selalu membuat hatiku tenang,
Bila dia ada di sampingku.
Perasaan nyaman, hangat, dan penuh cinta.
Aku menyebutnya Peri Cantik. Hanya aku yang tahu.
Rasanya, ingin sekali aku menggapainya, bukan hanya sebagai pelarian hatiku.
Bukan sebagai objek pelarian karena cintaku yang mungkin tak terbalas.
Bagaimana?
Itulah pertanyaan dalam hatiku yang bingung.
Menunggu itu bosan,
Apa salahnya jika aku mulai mencari jalan ke lain hati?
Dari pada aku terus menjaga hati yang tak terbalas,
Peri itu terkadang dekat denganku, dan aku senang.
Namun terkadang menjauh, dan begitu jauh.
Aku terapit diantara dua pilihan..
Terus menunggu dia, atau coba menggapai Peri Cantik.
Antara ada dan Tiada
Sinar matahari tak pernah lelah menerangi dunia.
Begitu juga aku, yang tak pernah lelah memandangi,
Dan menunggunya. Selalu.
Biarpun aku tahu, dia tidak pernah tahu rasa yang aku pendam.
Yang membuat hatiku kadang sakit.
Entah sudah berapa lembar kertas putih terbuang,
Hanya untuk menuliskan kata-kata yang tepat untuknya.
Pena dan beberapa lembar kertas,
Itulah teman yang dapat menghiburku,
Jika kuingat dirinya.
Salahkah jika aku berharap?
Aku tidak tahu apakah dia menganggap aku ada atau tidak.
Yang pasti, aku selalu mengharapkannya.
Takkan lelah aku duduk manis di sini.
Hanya untuk menemaninya.
Kalau dia menganggap aku ada,
Dunia pasti akan aku peluk.
Dan jika tidak,
Yang bisa aku lakukan hanyalah....
Teru menunggu.
Begitu juga aku, yang tak pernah lelah memandangi,
Dan menunggunya. Selalu.
Biarpun aku tahu, dia tidak pernah tahu rasa yang aku pendam.
Yang membuat hatiku kadang sakit.
Entah sudah berapa lembar kertas putih terbuang,
Hanya untuk menuliskan kata-kata yang tepat untuknya.
Pena dan beberapa lembar kertas,
Itulah teman yang dapat menghiburku,
Jika kuingat dirinya.
Salahkah jika aku berharap?
Aku tidak tahu apakah dia menganggap aku ada atau tidak.
Yang pasti, aku selalu mengharapkannya.
Takkan lelah aku duduk manis di sini.
Hanya untuk menemaninya.
Kalau dia menganggap aku ada,
Dunia pasti akan aku peluk.
Dan jika tidak,
Yang bisa aku lakukan hanyalah....
Teru menunggu.
Langganan:
Postingan (Atom)
