Pages

Senin, 18 Maret 2013

L.O.V.E | Part 7: Two Hearts to One Love

26 December 1996 / 11 A.M waktu London



Eshter berlari secepat mungkin, menuju The Royal London Hospital. Baru saja dia mendapat telepon bahwa ayahnya baru saja dibawa ke rumah sakit karena mendadak terkena serangan jantung. Eshter terus berlari, tak mempedulikan orang-orang yang tanpa sengaja di tabrak. Dia tidak mau kehilangan satu-satunya anggota keluarganya tercinta kembali pergi. Sudah cukup baginya untuk kehilangan sang Ibu. Eshter tidak rela kalau ayahnya sudah harus ikut menyusul sang Istri sekarang. Dia masih butuh ayahnya. Dia masih butuh pelukan hangat sang ayah.

BRUKK!

"A-Aduh..."

"M-Maaf! Aku sedang buru-buru."

Tanpa sengaja Eshter menabrak seorang pasien lain di rumah sakit itu, seorang perempuan mungil, yang nampak seumuran dengannya. Ketika Eshter sampai di kamar ayahnya dirawat, gadis itu bisa melihat ketika sang ayah terbaring lemah, namun masih tersenyum ke arah sang anak tunggal tercinta. Eshter melangkah pelan mendekati sang ayah yang masih dijaga oleh salah satu Anak buah paling setia dari keluarga Eshter. 

"Aku tidak mau kehilanganmu, Dad."

"Tidak apa, Eshter. Ayah akan segera sehat. Ayah berjanji."

Eshter mendapat perintah bahwa dia harus keluar dari kamar oleh sang dokter untuk pemeriksaan ayahnya. Hanya sang anak buahlah yang menemani ayahnya di dalam kamar. Eshter menutup pintu kamar itu menutup, dan melangkah ke arah sebuah kursi panjang di lorong rumah sakit. Hanya ada seorang perempuan yang duduk di sana. Dan coba tebak! Itu perempuan yang tadi Esher tabrak! Aduh!

"Hng, maaf. Tadi aku menabrakmu. Aku tak sengaja.."

"Oh tidak apa kok."

Gadis berambut merah itu langsung duduk tepat di samping sang perempuan mungil yang duduk diam menatap lantai di bawahnya. Apa yang sedang dipikirkannya?

"Aku Eshter. Salam kenal. Siapa namamu?"

"I-Ivy."

Nama yang bagus, pikirnya. Perempuan itu sempat tersenyum ketika menyebutkan namanya. Namun kemudian kembali menunduk menatap lantai. Sebenarnya, perempuan itu kenapa? Karena rasa penasaran Eshter yang begitu tinggi, akhirnya dia memutuskan untuk segera bertanya. Bisa saja kan kalau ternyata Ivy memikirkan cara untuk bunuh diri karena ditinggal pacarnya? Itu bahaya!

"Maaf, Ivy. Kau kenapa lesu begitu? Sedang ada masalah?"

"Hm? Tidak kok, tidak."

Lagi-lagi gadis itu tersenyum pada Eshter, senyum yang sangat manis. Pria mana yang tidak suka dengan senyumnya itu.

"Ngomong-ngomong, kau dirawat karena penyakit apa, Ivy?"

"Hanya penyakit biasa."

"Oh.."

Tak berapa lama kemudian, seorang dokter yang usianya sudah cukup tua dan Senior memanggil gadis itu. Di sebelah sang dokter berdiri seorang perempuan paruh baya dengan usia kira-kira 30-an tahun. Ivy melangkah meninggalkan Eshter tanpa sepatah katapun. Ivy masuk ke dalam ruangan dokter itu dengan wajah menunduk. Pasrah.

Cukup lama Eshter duduk sendirian di tempatnya, dan baru saja Ivy beserta perempuan paruh baya itu keluar dari ruangan sang dokter. Dan kali ini, sang dokterlah yang keluar. Eshter penasaran, dengan apa yang terjadi pada Ivy. Meskipun baru kenal, Eshter sudah sangat ingin tahu.

"Dokter. Gadis bernama Ivy itu.... kenapa?"

"Maaf, anda siapa?"

"Temannya. Teman lamanya."

"Oh.. Dia terkena kanker hati. Dan besok sudah harus dioperasi."

Eshter refleks menutup mulut dengan tangan kanannya, seakan-akan tak percaya dengan apa yang dia dengar. Gadis itu, Ivy, menderita penyakit parah seperti itu?

"Apa Ivy masih bisa disembuhkan?"

"Kemungkinannya kecil, sangat kecil."

Gadis ini tidak tahu, apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus menangis dan mengatakan pada Ivy bahwa dia sangat senang bisa mengenal Ivy walau sebentar? Oh Tuhan, Eshter tidak mau hal yang sama terjadi pada ayahnya tercinta. Dia rela melakukan apapun untuk ayahnya, walaupun itu harus mengorbankan nyawanya sendiri. Tapi Ivy, bagaimana?

Eshter terus berpikir tentang Ivy, tanpa tahu bahwa Ivy merupakan Pulau indah yang dijadikan Sean sebagai tempat pelabuhan hatinya...


To be Continued...

H.R.Y

L.O.V.E | Part 6: Like a Dream

26 December 1996 / 7 A.M waktu London

Pertemuan semalam nampaknya menjadi awal dari sebuah kisah lama yang diputar ulang namun dengan jalan cerita yang baru untuk Sean. Sebelum Eshter masuk ke dalam rumahnya, gadis itu membuat janji dengan Sean untuk berjalan-jalan ke tempat yang dulu sering mereka jadikan tempat pertemuan, atau lebih tepatnya tempat mereka berbagi, dulu. Sean masih selalu ingat dimana tempat itu, dan dia sudah siap pagi ini untuk pergi menemui Eshter di tempat itu. Begitu semangatnya sampai dia tidak lagi mempedulikan kotak hadiah yang dipersiapkannya untuk Ivy, di atas meja.



Jaket hitam ditambah celana jins dengan warna serupa dengan leher dibaluti syal warna putih, Sean meninggalkan rumahnya, melangkah menuju tempat penuh kenangan antara dirinya dan Eshter. Di tempat itu mereka menghabiskan banyak waktu. Di tempat itu mereka sudah banyak berbagi kisah lewat hati mereka masing-masing. Dan di tempat itu pulalah, awal dari sebuah kisah romantis sepasang anak muda dimulai dan juga diakhiri di tempat yang sama. 

"Hai Sean!"

Itu dia, gadis berambut meraj bernama Eshter, rupanya sudah menunggu dengan posisi tubuhnya yang menyandar pada sebatang pohon besar yang ada di dekatnya.

"Sudah menunggu lama?"

"Belum lama kok."

"Jadi, jalan?"

Sebuah anggukan sudah cukup untuk menjadi sebuah jawaban. Mereka melangkah menyusuri jalanan hutan bersalju yang sepi. Jalanan lurus itu mereka lalui berdua, jalan berdampingan. Sama persis dengan apa yang terjadi ketika mereka masih muda. Untuk beberapa saat suasana hening menjadi penghias langkah kaki mereka. Cahaya matahari pagi sedikit demi sedikit mengintip dari celah-celah diantara pepohonan menjulang yang tertutupi salju.

"So, Sean.Apa kau punya cerita menarik?"

"E-Eh? Hng.."

"Sudah, cerita saja. Dulu kau tidak pernah malu-malu kan. Hahaha..."

Pukulan ringan mendarat di punggung tegap Sean. Yah, saat-saat seperti inilah yang selalu dirindukan Sean dari masa lalunya. Dia sedikit bimbang, cerita apa yang harus dia bagi dengan Eshter? Apa merupakan hal yang baik kalau dia menceritakan soal pertemuannya dengan Ivy beberapa hari yang lalu? Iya, sejak pertama bertemu gadis itu, seakan-akan Sean menemukan sosok pengganti Eshter.

"Er.. Baiklah.."

Sepanjang perjalanan, Sean menceritakan soal bagaimana kehidupannya setelah kehilangan Eshter. Sampai dengan alasan mengapa dia selalu menghabiskan waktu untuk duduk di bangku panjang Hyde Park setiap malam untuk menunggu Ivy. Namun pemuda ini tidak menyebutkan nama Ivy dalam percakapannya kali ini. Sean tidak tahu apakah yang dilakukannya ini benar atau tidak. Tapi dia hanya berharap kalau Eshter setidaknya bisa mengerti apa yang dia rasakan, sebagai teman lama. Tidak lebih. Teman lama yang sudah sangat akrab.

"Nah! Lalu, kau tidak mau mencarinya Sean?"

"A-Aku belum coba."

"Aku yakin dia juga pasti sebenarnya juga menunggumu, Sean!"

Eshter boleh saja berkata seperti itu dengan lantang di mulutnya. Tapi tidak pada hatinya. Perasaannya seakan-akan jantung hatinya tersayat benda tajam hanya untuk berkata seperti itu. Air matanya tertahan, tentu saja dia tidak mau Sean melihat air mata dari seorang gadis yang sebenarnya masih sangat mengharapkan cinta dari Sean.

"Semoga saja kau benar. Lalu, bagaimana denganmu? Sudah menemukan sosok Pria Italia?"

"Ah, sudah. Mereka semua tampan."

Namun tidak ada yang mampu meluluhkan hatinya, seperti saat bersama Sean. Itu kata hatinya.

Mereka menghabiskan sisa waktu pagi hari dengan saling melempar bola salju. Dari dulu, dalam hal ini Eshter selalu keluar jadi pemenang. Dan juga, Eshter merasa bahwa ini seperti mimpi, mimpi yang akhirnya bisa jadi sebuah kenyataan indah. Andai saja Sean tahu apa yang sedang dia rasakan. Andai saja Sean tahu kalau Eshter masih sangat mengharapkan rasa itu kembali. Tapi sepertinya, Sean sudah menutup pintu hati untuk Eshter. Pemuda Sylvester itu sudah melabuhkan hatinya, ke sebuah Pulau yang indah. Pulau yang menyimpan begitu banyak mimpi dan masa depan yang cerah.

But, she always love him...



To be continued...

H.R.Y

Senin, 07 Januari 2013

L.O.V.E | Part 5: Complicated


Sejenak Sean tersentak, kaget mendengar sebuah suara, seorang perempuan. Ini, di malam Natal yang penuh pengharapan ini, apakah akan terjadi? Keinginan Sean untuk bertemu orang yang telah berhasil menaklukkan hatinya, apakah akan terjadi? Sean kemudian menolehkan kepalanya, ke arah sumber suara. Tatapan matanya kini bisa melihat dengan jelas, sosok seorang perempuan seusianya, bersurai merah, berkulit putih, dengan pakaian musim dingin yang serba hitam.

Surai merah? Ya, memang bersurai merah.

"E-Eshter?"

Untuk beberapa detik lamanya seluruh tubuh Sean tidak mampu digerakkan secara bebas. Tubuhnya kaku, pandangan matanya masih lurus menatap perempuan yang pernah mengisi hatinya walau tidak terlalu lama. Eshter, nama gadis itu. Bukankah dia harusnya tinggal di Italia? Kenapa dia bisa ada di sini? Apa yang dia lakukan dengan kembali ke London?

"Boleh aku duduk di sini, Sean?"

Rasanya sudah lama Sean tidak melihat senyum manis gadis itu. Ketika gadis itu tersenyum, nampak sepasang lubang kecil di bagian pipinya. Deretan gigi-gigi putih menambah kecantikan seorang Eshter. Inikah bidadari yang pernah mengisi hati Sean? Terlalu bodohkah Sean merelakan Eshter untuk lebih memilih karirnya ketimbang cintanya? Entahlah.

"T-Tentu saja.."

Sean menggeser posisi duduknya, masih dengan sebuah kado di pangkuannya. Kini Eshter telah duduk di sampingnya. Mereka bertemu lagi, dalam keadaan yang berbeda. Mereka bukan lagi sepasang muda-mudi yang baru merasakan cinta. Mereka pernah menyatukan cinta mereka, meski pada akhirnya mereka harus menyerah pada keadaan. Dan sekarang, apakah waktu yang tepat untuk mempertemukan cinta lama yang sudah terpisah nyaris 5 tahun lamanya? Ketika salah satu dari mereka telah menemukan pelabuhan hati barunya?

"Ngomong-ngomong, kau sedang menunggu seseorang?"

Sean mengangguk, kemudian tersenyum pada Eshter. Ya, dia sedang menunggu perempuan bernama Ivy yang ditemuinya beberapa hari yang lalu di tempat ini. Sean tidak bisa menceritakan soal itu di sini. Menurutnya, itu bukanlah hal yang bijaksana.

"Kado itu untuk siapa? Pacarmu?"

"E-Eh?"

Eshter memang cerewet, dan itulah yang menjadi salah satu daya tariknya bagi Sean. Sean tampak salah tingkah dengan memandangi kado di pangkuannya, kemudian kembali menatap Eshter yang menantikan jawabannya. Pacar? Bagaimana mungkin Sean bisa mengatakan bahwa dia sedang menunggu pacar barunya, sementara dia saja baru mengenal orang yang ditunggunya sebentar.

"T-Tidak... Eh Eshter, kenapa kau di sini?"

"Hm?"

"Maksudku, tidak merayakan Natal di Italia?"

"Tidak, Dad mengajakku merayakan Natal di London. Jadi yah, aku ikut. Kebetulan sekali kita bertemu di sini ya, Sean."

Untuk kesekian kalinya Sean tersenyum. Pertemuan seperti inilah yang kadang kala sering terjadi di begitu banyak jenis novel cinta. Tidak beda jauh dengan pertemuan antara Sean dan Ivy sebelumnya. Namun pertemuannya dengan Eshter, seperti sebuah reunian kecil, antara hati mereka berdua. Apa yang bisa mereka bicarakan? Masa lalu? Tentang kisah-kisah lama yang telah mereka ukir di hati masing-masing lawan jenis? Apakah ini kado Natal terbaik untuk Sean?

2 jam lamanya mereka habiskan untuk membicarakan soal kenangan-kenangan indah diantara mereka. Sean memutuskan, dia akan segera kembali ke rumah.

"Perlu ku antar pulang?"

"Boleh, kalau kau tidak keberatan. Biar kau tahu rumahku yang sekarang. Haha.."

Perasaan tak menentu menyelimuti Sean. Antara senang dan sedih, menjadi satu malam itu. Dia tidak bisa mengungkapkannya.

***


25 December 1996 / 9 P.M waktu London

Gadis mungil itu melangkah kedinginan, menembus salju yang terus turun. Dia tidak mempedulikan tubuhnya yang lemas tak berdaya setelah 3 hari terbaring di Rumah Sakit. Dia merasa tidak kuat untuk terus menghabiskan waktu dengan mengkonsumsi obat-obat dari Dokter yang merawatnya. Dia membutuhkan obat lain, yang bisa menenangkan hatinya. Dia ingin bertemu sosok laki-laki yang membuatnya tersenyum malam itu. Tak terasa sakit sedang menyerangnya ketika bersama laki-laki itu. Begitu nyaman, dan hangat di dekatnya.

Ivy duduk di bangku panjang yang tadinya telah dihuni sepasang muda-mudi seumurannya. Gadis mungil itu memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket tebal yang dia kenakan, melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri. Ivy ingin bertemu Sean, Ivy ingin berbincang-bincang lagi dengan Sean. Dia tidak ingin pisah dari Sean, biarpun dia baru mengenalnya beberapa saat. 

Tak peduli seberapa parah sakit yang dideritanya saat ini, tak peduli seberapa dinginnya cuaca malam ini, Ivy tetap duduk menanti. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Apa benar perkataan Ibunya? Apakah dia sedang jatuh cinta? Jatuh cinta, hal yang tak pernah dia tahu, sejak dulu. Penyakit parah itu telah membuatnya harus banyak terbaring di atas tempat tidur, dan tak pernah menemukan arti cinta yang sebenarnya.

"Nak, malam sudah larut. Pulanglah."

"Ah, tidak apa Pak. Hehe.."

"Apa yang sedang kau tunggu? Pacarmu?"

"Tidak, hanya seorang teman saja kok."

"Oh, haha.. Baiklah, selalu waspada, Nak."

Bahkan seorang Polisi penjaga taman pun tak akan mampu menggerakkan niat Ivy untuk terus menunggu Sean. Di sini mereka pertama bertemu, dan mungkin saja mereka bisa bertemu di sini kan? Apa mungkin Sean sudah melupakan pertemuannya dengan Ivy? Tidak apa, Ivy akan menunggu Sean, entah itu berapa hari, berapa bulan, atau berapa tahun. Atau sampai seberapa lama dia bisa bertahan dari penyakitnya? Entahlah, Tuhan yang tahu.

....


To be continued....

H.R.Y

Rabu, 02 Januari 2013

L.O.V.E | Part 4: Sean Wishes



25 December 1996 / 6 A.M waktu London

Pagi Natal, dan Sean masih berada di atas tempat tidurnya yang nyaman. Hingga akhirnya sang Ibu membuka jendela kamarnya, membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya, menyilaukan mata sang penulis muda. Hal ini jelas harus memaksa Sean beranjak, dan segera membuka kado yang sudah ada di ruang tamu.

Ya...

"Thanks, Mom!"

Sean baru saja membuka kadonya. Berukuran sedang, tidak terlalu besar juga. Tepat, hadiah yang diberikan Ibunya adalah sebuah hiasan seperti bola kristal kecil, yang di dalamnya terdapat sebuah kursi panjang, dan sebuah pohon yang nyaris tertutupi salju yang turun. Dipandanginya terus hadiah dari Ibunya tersebut. Dan tentu saja dia ingat, sebuah kado yang dia persiapkan untuk Ivy, yang mungkin saja bisa dia temui di Hyde Park, malam ini. Semoga saja malam ini, dia akan bertemu gadis itu. Semoga!

***


Sebuah kotak kado kecil dibawa oleh Sean yang menyusuri jalanan kota London, menuju Hyde Park yang kini semakin ramai. Salju terus saja turun, nyaris menutupi seluruh bagian rambut Sean Sylvester. Pandangan matanya sesekali menyisir seluruh bagian taman yang ramai. Tujuannya tentu saja bangku panjang yang sudah menjadi tempat penuh kenangan untuknya. Di malam Natal ini, harapan Sean hanya ingin bertemu dengan Ivy dan berbincang lebih lama lagi dari yang kemarin.

"Fuh.."

Sean sudah duduk di kursi panjang itu, dan menyandarkan tubuhnya di bagian belakang bangku. Kedua tangannya masih memegangi kado yang dia bawa dari rumah. Apa yang dia lakukan ini sia-sia? Atau semua akan terjawab dengan kedatangan Ivy malam ini? Dia rela melakukan semua ini, karena dia merasa bahwa Ivy adalah suatu anugerah untuknya, yang mampu membuatnya hidupnya jadi lebih berwarna. Detak jantungnya semakin cepat seiring berjalannya waktu. Ataukah ini tanda-tanda kedatangan seorang Ivy? Entahlah, dia hanya bisa berharap.

"Sean....?"

Nah, siapa?




To be Continued...

H.R.Y

L.O.V.E | Part 3: Lonely

He's lonely

23 December 1996 / 9 P.M waktu London

Malam semakin dingin, dan salju masih terus turun tanpa henti. Sudah dua jam berlalu sejak kedatangan Sean pada jam 7 tadi, demi menemui sesuatu yang dia inginkan malam ini. Sean rela meletakkan penanya untuk sesaat, berhenti menulis, hanya untuk hal ini. Dia berharap malam ini dia bisa bertemu lagi dengan Ivy, di tempat yang sama. Sean juga duduk di bangku panjang tempatnya dan Ivy duduk ketika itu. Hanya saja, untuk malam ini dia duduk sendirian. Menikmati salju yang turun, kesepian.

Sean melirik jam tangan miliknya sekali. Pemuda ini beranjak dari tempatnya, berdiri diam. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, ingin lebih memastikan apakah gadis yang ingin ditemuinya itu akan datang atau tidak. Dan akhirnya, Sean memutuskan untuk pulang ke rumah. tentu saja dengan perasaan kecewa, kecewa berat.

He's failed, tonight.

***

24 December 1996 / 11 A.M waktu London

Tidak ada yang Sean lakukan, sejak pagi sampai menjelang siang ini. Dia hanya diam, merenungkan apa yang akan terjadi padanya. Hari ini, satu hari menjelang Natal. Pikirannya masih terus melayang memikirkan Ivy, terus. Sean berbaring di atas rerumputan di halaman belakang rumahnya, memandangi langit yang terus menerus balik memandanginya tanpa pernah bosan. Seandainya saja Sean bisa berbagi cerita dengan sang langit..


Bahkan hingga acara makan bersama keluarga besarnya di malam harinya pun dilewatkan Sean begitu saja. Dia memilih untuk menutup pintu kamarnya, membanting tubuhnya di atas kasurnya yang empuk, dan menatap langit-langit kamarnya. Berharap pada hari Natal besok, Ivy akan datang ke rumahnya, walau hanya sekedar mengucapkan selamat Natal saja. Yah, kesalahan Sean juga yang tak sempat memberikan alamat rumahnya. Terlalu berharap itu, kadang dilarang kan?

Berharap juga bisa membuat hati sakit...



To be Continued....

H.R.Y

L.O.V.E | Part 2: Remember Her

22 December 1996 / 8 A.M waktu London

Pena itu terus bergerak, mengikuti alunan tangan sang pemakai. Perlahan tapi pasti kertas yang tadinya putih bersih, kini sudah mulai ternoda dengan beberapa buah kata yang membentuk sebuah kalimat panjang. Penggerak pena tersebut tak lain adalah Sean. Sejak pertemuan semalam, bangun dari tidur dia langsung beranjak dari tempat tidurnya, mandi, dan langsung duduk nyaman di kursi menulisnya. Tiba-tiba saja seperti ada sebuah suntikan semangat di dalam dirinya saat ini. Ivy, nama gadis itu. Sean seolah-olah tersihir dengan senyum serta kecantikan gadis mungil yang pernah duduk di sampingnya. Ingin rasanya dia memutar waktu itu, sekali lagi.

Cukup lama pemuda ini duduk dalam diam, akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan nafas ke halaman depan rumahnya.


Sejuk, udara di tempat tinggalnya memang sangat luar biasa dan membuatnya nyaman untuk terus menulis. Halaman depan yang luas, dengan pembatas pagar kayu kokoh setinggi dada orang dewasa. Di bagian belakang rumah terdapat kolam yang di tengahnya terdapat sebuah jembatan. Isinya tentu saja beberapa jenis ikan, dan jangan pernah mengharapkan keluarga Sean akan memelihara seekor buaya atau seekor Hiu di dalamnya. Ah ya, di bagian samping rumahnya terdapat sebuah bangunan pribadi seperti sebuah Kastil kecil. Itu biasa digunakan untuk bermain atau berkumpul.

Sean duduk di atas pagar kayu rumahnya, membiarkan rambutnya tertiup angin sepoi. Tatapan matanya terus memandangi rerumputan hijau yang terbentang di depannya. Awan biru cerah menjadi penghias lainnya pagi itu. Pikirannya masih terpaku pada Ivy. Gadis yang membuatnya kembali bisa merasakan saat-saat dimana detak jantungnya berdetak cepat. Ya, ini bukan yang pertama untuk Sean. Dan kembali pikirannya melayang ke tempat lain. Ke orang lain, kali ini.

Eshter

Eshter, itu namanya. Gadis bersurai merah itu menjadi cinta pertama Sean sewaktu mereka berusia enam belas tahun. Mereka sempat menjalin suatu hubungan serius, yang mana akhirnya harus berakhir karena perbedaan prinsip mereka sendiri. Ya, mereka pisah sekolah setelah lulus. Eshter memutuskan untuk ikut ayahnya ke Italia, dan bertekad menggapai cita-citanya menjadi seorang Desainer.

"Hm, Eshter. Apa kabarmu....?"

Seperti itulah Sean. Dia hanya bisa bertanya secara jelas ketika dia jauh dari orang yang disukainya. Sedikit mengingat masa lalu bukanlah jadi suatu masalah dalam kehidupan. Setidaknya Sean masih bisa menjadikan Eshter salah satu kenangan indahnya  di masa lalu. Dan kini, sudah saatnya dia membuka lembaran baru, seiring dengan berjalannya waktu dan semakin bertambah usianya. Dia sudah memutuskan, semalam. Tanpa pikir panjang, bahwa dia bisa melakukanya. Ivy telah mengubah segalanya hanya dalam satu malam. Hanya dengan obrolan singkat mereka.

Inikah yang namanya merindu lagi?



To be continued....

H.R.Y

Rabu, 26 Desember 2012

L.O.V.E | Part 1: Fall in Love

Sean Sylvester


"Yak, selesai."

Sean menutup buku catatan miliknya, buku yang menyimpan begitu banyak cerita yang kelak akan dibagikan ke muka umum. Sean Sylvester merupakan seorang penulis muda berusia 20 tahun asal London, yang telah menerbitkan tiga buah novel bergenre percintaan. Satu yang menjadi ciri khas novel buatan Sean adalah, cerita apapun yang dia buat, selalu berakhir dengan kisah tragis. Tidak ada satupun kisah yang berakhir dengan akhir yang bahagia, entah pada akhirnya mereka menikah atau apa. Sean tidak pernah berhasil menulis itu. Dia seperti tidak sanggup melakukannya.

***
21 December, 1996 / 7 P.M waktu London

Salju terus turun tanpa henti. Orang-orang berlalu lalang di jalanan kota London yang cukup ramai. Big Ben (Jam besar yang terkenal di London) masih menunjukkan pukul 7 malam. Diantara banyaknya orang-orang yang berlalu lalang, tampak seorang pemuda dengan mengenakan pakaian lapis serba hitam, ditambah syal berwarna hijau. Berjalan sendirian, sembari memandangi Big Ben dari bawah. 

Sean telah tiba di Hyde Park, sebuah taman di tengah kota yang sedang ramai dengan berbagai kegiatan ice skating. Dia duduk di salah satu kursi panjang kosong yang tersedia di sana. Rambutnya dibiarkan tertimpa butir-butir salju yang turun, tatapan matanya mengawasi semua orang yang ada di tempat ini. Beberapa pasangan seusianya tampak sedang bersenang-senang, bermain. Dan tak jauh dari sana, pasangan yang usianya jauh lebih tua juga sedang duduk di bangku taman yang lain. Mereka semua tampak berpasangan, kecuali Sean. 

Ya, kecuali dia.

Pemuda Sylvester ini kemudian mengeluarkan sebuah catatan kecil miliknya, ditambah sebuah pena. Dia menuliskan beberapa kalimat di dalam buku catatannya. Yah, setidaknya dia bisa kembali membuat cerita lagi setelah ini. Sejenak dia menghentikan kegiatannya, dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Pandangannya kali ini ke atas, menghadap bintang-bintang yang bersinar. Natal memang belum tiba, tapi entah kenapa dia malah sudah merasakannya setelah melihat orang-orang di sini.

"Maaf..."

Ada suara, seorang perempuan.

"Boleh aku duduk di sini? Sebentar?"

Ivy

Seketika Sean menoleh, memandang ke arah sumber suara. Kedua manik biru langitnya menatap seorang perempuan, berambut panjang. Memakai jaket hitam. Bertubuh agak mungil, namun bisa dipastikan kalau usianya tidak berbeda jauh dengan Sean. Dia yakin itu.

"T-Tentu saja. Silahkan."

"Thanks."

Gadis itu kemudian duduk tepat di samping Sean. Sylvester muda ini terus memandangi seorang Hawa yang kini ada di sampingnya, sangat lekat. Gadis itu kini tengah menatap orang-orang di tengah taman yang tengah bermain. Melihat wajah gadis itu, entah kenapa membuat Sean tersenyum sendiri. Ini sama seperti cerita yang pernah dia baca di salah satu novel terkenal. Pertemuan yang tak disengaja dan biasanya akan berakhir dengan bahagia. Oh God, why?

"A-Aku Sean, Sean Sylvester..."

Sebuah uluran tangan dari pemuda ini.

"Namamu?"

"Oh, aku Ivy. Ivy Moreau."

Sean bisa merasakan dinginnya tangan gadis itu, Ivy. Setelah itu, Sean melepaskan genggaman tangannya. Yah setidaknya ini yang bisa dia lakukan dalam sebuah pertemuan yang sangat tidak disengaja. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada mereka berdua selanjutnya kan?

"Kau sendirian saja?"

"Ya.."

Bodohnya Sean bertanya seperti itu. Bukankah seharusnya dia sudah bisa melihat keadaannya sendiri?

"Kenapa kau tidak bermain juga?"

"Ah tidak, aku tidak bisa."

Gadis itu nyengir ke arah Sean. Obrolan mereka terus berlangsung untuk beberapa saat. Obrolan soal sepasang kekasih berusia lanjut yang sedang duduk berdua di bangku taman lainnya, betapa romantisnya ketika sang kakek memberikan bunga mawar merah pada sang pasangan. Sean sedikit tertawa melihat ekspresi sang kakek yang terkejut karena tiba-tiba pasangannya telah mengecup pipi kanannya. Sementara Ivy, gadis itu tidak kalah senangnya dibanding Sean.

Yah, dan dimana ada pertemua, pasti ada perpisahan kan?

"Sean, kurasa aku harus pulang. Sampai juga lagi!"

"Ah ya, sampai juga, Ivy!"

Gadis itu pergi, menjauh. Rambut panjangnya terurai ketika dia berlari menembus salju yang terus turun. Sean terus menatapnya, sampai Ivy menghilang dari pandangannya. Tak pernah sebelumnya Sean merasakan perasaan yang seperti ini. Menyenangkan, sangat menyenangkan. Seorang perempuan yang baru dikenalnya, menjadi orang yang spesial di hatinya saat itu. Perasaan macam apa ini? Bisakah dia menuliskannya di dalam buku catatannya dalam bentuk kata-kata seperti ketika dia menulis sebuah novel? Perasaan aneh, yang mengusik hatinya.

This is called love?



To be Continued....

H.R.Y

The Man Who Can't Be Moved

"The Man Who Can't Be Moved"

Going Back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag I'm not gonna move
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying, "If you see this girl can you tell her where I am? "

Some try to hand me money, they don't understand
I'm not broke I'm just a broken hearted man
I know it makes no sense but what else can I do
How can I move on when I'm still in love with you

'Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinkin maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on the corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving

Policeman says, "Son you can't stay here"
I said, "There's someone I'm waiting for if it's a day, a month, a year"
Gotta stand my ground even if it rains or snows
If she changes her mind this is the first place she will go

[Chorus:]
'Cause If one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on our corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving,
I'm not moving, I'm not moving

People talk about the guy that's waiting on a girl
There are no holes in his shoes but a big hole in his world

Maybe I'll get famous as the man who can't be moved
Maybe you won't mean to but you'll see me on the news
And you'll come running to the corner
'Cause you'll know it's just for you
I'm the man who can't be moved

[Chorus 2x]

Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag, I'm not gonna move

***

Pernah dengar lagu dengan lirik di atas? Yes, lagu dari 'The Script - The Man who can't be moved' ini sedang merajalela di kalangan anak muda. Coba pahami liriknya baik-baik, dan kalian akan mendapat makna yang sebenarnya dicurahkan oleh sang penulis lagu.

Dalam lagu ini, bisa dijelaskan bahwa seorang laki-laki yang bertemu pasangannya di suatu tempat, namun kemudian mereka berpisah. Laki-laki ini memutuskan untuk datang ke tempat semula dia bertemu dengan pasangannya. Terus menunggu, tak peduli apa yang dikatakan oleh orang-orang yang melihatnya. Tak peduli hujan dan salju membekukan tubuhnya. Semua dia lakukan, demi bertemu pasangannya yang hilang. Memang sedikit naif, namun laki-laki ini mengajarkan pada kita semua kalau kita sudah benar-benar tahu jodoh kita, kita pasti akan melakukan hal yang sama.

Ngomong-ngomong, apa kalian pernah mengalami hal yang sama? Sebaiknya dengarkan lagu ini. Dijamin, perasaan kalian akan campur aduk. Nangis, rindu, sebal, dan sebagainya.

Dan ada sedikit terjemahannya:

Kembali ke pojok tempat aku pertama kali melihatmu
Mau kamp di kantong tidur saya, saya tidak akan bergerak
Punya beberapa kata di kardus, mendapatkan foto Anda di tanganku
Mengatakan jika Anda melihat gadis ini Anda bisa mengatakan di mana saya

Beberapa mencoba untuk memberi tangan saya uang, mereka tidak mengerti
Aku bukan miskin, Aku hanya seorang pria yang patah hati
Aku tahu itu tidak masuk akal tapi apa lagi yang bisa saya lakukan
Bagaimana saya bisa bergerak ketika saya pernah jatuh cinta dengan Anda

Karena jika suatu hari Anda bangun dan menemukan bahwa Anda merindukan aku
Dan hatimu mulai bertanya-tanya di mana di bumi ini aku bisa
Berpikir mungkin Anda akan kembali ke sini ke tempat yang kita akan bertemu
Dan Anda akan melihat saya menunggu Anda di pojok jalan

Jadi aku tidak bergerak
Aku tidak bergerak

Polisi mengatakan; Nak, Anda tidak bisa tinggal di sini
Saya mengatakan ada seseorang yang saya sedang menunggu jika hari bulan tahun
Harus berdiri di tanah saya bahkan jika hujan atau salju
Jika dia berubah pikiran ini adalah tempat pertama ia akan pergi


Karena jika suatu hari Anda bangun dan menemukan bahwa Anda merindukan aku
Dan hatimu mulai bertanya-tanya di mana di bumi ini aku bisa
Berpikir mungkin Anda akan kembali ke sini ke tempat yang kita akan bertemu
Dan Anda melihat saya menunggu Anda di pojok jalan

Jadi aku tidak bergerak
Aku tidak bergerak
Aku tidak bergerak
Aku tidak bergerak

Orang-orang berbicara tentang pria
Siapa yang menunggu seorang gadis oh whoa
Tidak ada lubang di sepatu
Tapi lubang besar di dunianya


Mungkin aku akan terkenal sebagai pria yang tidak dapat dipindahkan
Dan mungkin Anda tidak akan berarti tetapi Anda akan melihat saya di berita
Dan kau akan datang berlari ke sudut
'Karena kau akan tahu itu hanya untuk Anda

Aku orang yang tidak dapat dipindahkan
Aku orang yang tidak dapat dipindahkan

Karena jika suatu hari Anda bangun dan menemukan bahwa Anda merindukan aku
Dan hatimu mulai bertanya-tanya di mana di bumi ini aku bisa
Berpikir mungkin Anda akan kembali ke sini ke tempat yang kita bertemu
Oh Anda melihat saya menunggu untuk Anda di sudut jalan

Jadi aku tidak bergerak

Aku tidak bergerak
(Dan hatimu mulai bertanya-tanya di mana di bumi ini aku bisa)
Aku tidak bergerak
(Berpikir mungkin Anda akan kembali ke sini ke tempat yang kita akan bertemu)
Aku tidak bergerak
(Oh Anda melihat saya menunggu untuk Anda di sudut jalan)

Kembali ke pojok tempat aku pertama kali melihatmu
Mau kamp di tas saya tidur saya tidak akan bergerak

Selasa, 04 Desember 2012

Cinta, Rindu, dan Sakit

Cuma kamu yang ada di pikiranku,
Indah kulihat senyummu setiap hari..
Nyatanya aku hanya bisa diam, memandangmu dari jauh..
Tidak bisa aku ungkapkan rasa dihati..
Aku suka, aku cinta, aku rindu padamu..

Rasa ini sudah lama aku pendam,
Inginnya langsung aku nyatakan, di depanmu!
Namamu, selalu terbawa di pikiranku..
Dunia terasa tak adil bagiku, sangat tak adil,
Untuk bisa berpihak padaku, agar mendapatkan hatimu..

Siapa aku di matamu?
Apa aku hanya sampah di matamu?
Kenapa tidak kau katakan yang sejujurnya?
Inginku kau bisa jadi milikku, seutuhnya..
Tanpa yang seorangpun di hatimu selain aku..

Senin, 03 Desember 2012

Galau Karna Dia

Hancur, seketika hancur...
Musnah, seketika musnah..
Hampa, aku dibuat olehmu,
Gila aku karenamu..

Baru aku sadari,
Penantian panjangku terbuang percuma..
Waktuku habis dengan sia-sia untuk memikirkanmu,
Berbanding terbalik dengan apa yang aku terima saat ini..

Kau sudah memutuskan jalanmu, takdirmu, dan hidupmu..
Aku di sini, hanya sebagai hiasan dalam hidupmu,
Tak melakukan apa-apa dan begitu mudah,
Begitu mudahnya aku membiarkanmu dengan dia, dia yang tak pernah aku sangka!

Kenapa kau memilih dia? Apa dia nampak begitu sempurna di matamu?
Kenapa tidak pilih aku? Apa aku tidak begitu indah di matamu?
Kenapa harus dia? Dia orang yang bahkan tidak mengenalmu!
Kenapa bukan aku? Aku yang sudah begitu lama mengharapkan cintamu!!!

Kau dekati dia perlahan, dan aku mulai merasakan,
Sakit, perih, dan tangis tak mampu ku tahan..
Mengalir di pipiku dengan derasnya, tak rela aku melepaskanmu,
Untuk bersama dengannya..

Selama ini, kau anggap aku apa?!
Apa aku di matamu?!
Siapa aku di hatimu? Di matamu?
Apa aku hanya pengganggu hidupmu? Kenapa tidak kau katakan langsung?
Agar aku bisa segera melupakanmu!

Orang itu Saya

Ada, ada seseorang di sana yang menginginkan kamu..
Seseorang di sana yang sangat membutuhkan kamu..
Seseorang itu, selalu melukiskan senyumanmu dalam ingatannya,
Berharap kamu melakukan sebaliknya...

Ada, ada seseorang di sana yang selalu memimpikanmu,
Dalam tidurnya, nyaris setiap malam..
Memimpikan senyummu yang terkembang,
Saat kau menatap matanya...

Ada, ada seseorang di sana yang kesepian saat kamu tidak bersamanya..
Berharap kalau kamu akan selalu di sampingnya,
Ada di saat susah ataupun senang, saat panas ataupun dingin,
Dan saat air mata mengalir, di kala hujan..

Dan ada, seseorang di sana yang berharap, dan terus berharap..
Suatu hari nanti, kamu bisa melihat dan menyadari,
Sosoknya yang hitam putih dalam hidupmu..
Tak begitu berarti dalam hidupmu..

Sejujurnya... Seseorang itu adalah aku! Aku! Dan aku!
Aku yang selalu menginginkan dan membutuhkanmu dalam hidupku!
Aku yang selalu bermimpi tentangmu, di setiap malam yang kulewati sendiri..
Aku yang merasa sepi saat kau tidak bersamaku!
Dan akulah yang selalu berharap, kelak kamu akan menyadari sosokku,
Dalam hidupmu..

Mungkin saat ini aku bukan siapa-siapa,
Layaknya sampah yang menghalangi kehidupanmu dan dia..
Seperti sampah yang harusnya disingkirkan dan tak diperdulikan..
Tapi aku yakin, suatu hari nanti, aku akan menjadi berarti dalam hidupmu...

Harapan Kosong

Sadarkah kau? Tahukah kau?
Sudikah kau? Pedulikah kau?
Atau, kau hanya pura-pura tak sadar,
Sengaja membuatku terluka?

Lama, sudah lama aku duduk dan melipat tangan,
Membagikan senyum pada dunia, setiap hari.
Berharap cintamu akan datang,
Menyambutku dengan ramah diiringi senyuman..

Tapi, apa yang ku dapat dari penantianku selama ini?
Apa yang aku rengkuh dari waktu yang terbuang sia-sia untukmu?
Kosong! Kosong! Dan kosong!
Apakah mungkin kau hanya bisa aku kukagumi, tanpa bisa ku miliki?

Aku ingin kau mengerti, aku berdiri di sini,
Pundakku siap jadi tempat penampungan air matamu,
Air mata yang semuanya berasal dari dia..
Dia yang kau cinta, dia yang kau rindu, dia yang kau puja,
Dan dia yang engkau impikan...

Datanglah padaku, saat kau butuh...
Pergi dariku, saat kau sedang bersamanya..
Aku bukan siapa-siapa di matamu,
Saat kau telah memikirkan dan bersama dia...

Dalam Kenangan dan Harapan

Indah, malam itu terasa indah..
Sosokmu hadir menghangatkan, di tengah dinginnya malam...
Tawamu menggetarkan hati, kelukan lidah,
Dan aku hanya diam..

Aku bahagia,
Aku senang, terasa melayang aku dibuat olehmu..
Kau tertawa,
Entah benar-benar tertawa atau hanya tertawa..

Nyatanya, air mata dan luka hatiku,
Disebabkan olehmu..
Hati ini tak lelah untuk terus menunggu,
Hingga kau sadari sosokku...

Perlahan aku muak,
Aku bosan, aku gundah..
Aku sudah lelah, terus bertahan..
Dalam kisah yang jelas, tidak akan berakhir bahagia, untukku..

Aku ingin kau pergi, pergi dengannya..
Tapi nyatanya, aku berharap kau bertahan,
Di sini, denganku..
Walau aku tahu, aku bukan siapa-siapa di hidupmu...

Minggu, 30 September 2012

Dimana Cintaku?

30 September 2012
Malam, 22:02

Masih Jomblo? "Gue bangeeet."

Merasa gak laku? "Iyaaaa."

Malu sama temen yang udah bahagia kalo malam minggu? "Bangeeeeetttt!!!"

Tiap malem gue duduk di depan laptop kesayangan, liatin satu per satu profil temen atau seenggaknya orang di jejaring sosial. Yang gue liat kalo gak Photo mereka, paling Bio mereka. Dan yah, rata-rata mereka udah punya pasangan. Iri banget! Dan tiap malem juga gue nulis curahan hati gue (kalo gak di laptop, di BlackNote gue), soal kapan cinta akan datang ke gue?

Mungkin gue ada salah? Mungkin emang belum saatnya? Atau emang takdir gue untuk terus tersenyum di luar dan menangis di dalam?

Berjuta kali kedua mata gue menyaksikan soal bagaimana indahnya cinta, mendengarkan tiap baris indah kata-kata yang terucap. Tapi gue gak bisa sama sekali sekedar berucap soal cinta, sama pasangan gue. Kenapa? Karna gue belum punya pasangan. Tiap gue ngeliat sepasang cinta di depan gue, yah gue cuma bisa tersenyum, ikut berinteraksi dengan santainya. Dan ketika di jalan pulang ke rumah, yang gue pikirin cuma kapan gue bisa kayak gitu. SETIAP HARI!!

Gue tau, gue orang yang lemah. Gue bukan cowok pemberani, yang bisa nembak cewek dengan mudahnya. Gue bukan olahragawan yang pandai mengolah bola. Gue juga gak bergelimang harta. Dan gue juga cuma cowok yang banyak kekurangan. Gue tau.

Justru karna itu, gue terus berdoa sama Tuhan, untuk mengirimkan ke gue seseorang yang bisa menutupi kekurangan gue. Orang yang selalu ada, bukan ada hanya karena sedang butuh atau karena sedang ada masalah dengan hatinya yang lain. Gue cuma butuh cinta yang tulus, cuma butuh satu hati, dan gak perlu harta melimpah. Apa itu susah?

Sekali lagi gue berdoa kepada Tuhan: "Kapan Engkau berikan aku cinta? Kemanakah aku harus melangkah untuk menemukan cinta yang telah Engkau takdirkan untukku?"

Terus seperti itu.

Move On Kok Susah?

30 September 2012
Malam, pukul 21;40

Besok udah bulan Oktober, dan loe-loe semua belum pada move on?

Pasti ada yang pernah bertanya pada diri sendiri atau kepada temannya; "Kenapa?" , "Aneh deh, kok gue mikirin dia terus?" atau "Apa gue emang cinta mati sama dia?"

Sebenernya gak ada jawaban dari semua pertanyaan soal move on itu. Cuma hati kita sendiri yang bisa jawab dan memutuskan, kapan dan bagaimana caranya agar kita berhenti memikirkan 'doi' dan mulai membuka lembaran baru bersama makhluk indah lainnya di atas Bumi ini. Ingat, yang cantik dan ganteng itu banyak. Tapi yang nyaman di hati itu LANGKA BANGET!

Gue (Mbah), udah nge jomblo hampir 6 tahun. Bayangkan, 6 TAHUN! Cuma pernah ngerasain yang namanya pacaran sekali, sama cinta pertama gue. Gue gak ngerti, apa yang membuat gue bisa sedemikian gila, pacaran di usia yang masih sangat muda.

Pasti loe-loe bertanya: "Loe udah move on dari cinta pertama loe?"

Gue jawab nih: "Udah dooonng! Meski butuh hampir 2 tahun gue baru bisa bener-bener move on n menghapus memori tentang 'doi' dari kepala gue."

Banyak orang yang bilang cinta pertama itu paling susah dilupakan, bahkan sampai mati sekalipun. Gue juga pernah berpikir begitu. Tapi gue bukan cowok yang tergila-gila hanya pada satu cewek doang. Hari-hari gue dihiasi banyak Peri-Peri cantik di sekitar gue, dengan berbagai macam tipe. Jelas ada yang masuk dalam kriteria kekasih idaman gue. Tapi yah, gue lebih milih untuk ngejalanin hari-hari sama mereka sebagai teman, karna menurut gue mereka bakal sangat asik kalo dijadikan teman, bukan pacar.

Tips dari Mbah untuk cepat move on:
1). Sebisa mungkin gak ingat-ingat 'doi' lagi. Sebisa loe aja.
2). Kontak HP, sms, hapus dulu sementara dari HP loe.
3). Cobalah bergaul banyak lawan jenis yang menurut loe asik (kalo bisa lebih dari 1.)
4). Jangan pernah cerita soal masa lalu loe, sampai batas waktu yang loe tentukan sendiri.
5). Habiskan waktu sama teman-teman, di luar atau dimanapun lah.

Tips kalo 'doi' satu sekolah atau bahkan satu kelas dengan loe:
1). Sikap biasa aja. Bagi senyum + obrolan singkat
2). Sebisa mungkin jangan pernah melirik 'doi' di kontak HP loe. Soalnya loe pasti bakal mikir untuk sms 'doi' walaupun cuma nanya kabar atau tugas. Gak penting!
3). Sama seperti sebelumnya, berteman dengan banyak lawan jenis yang seenggaknya bisa membuat loe nyaman.

"Segitu doang tips dari gue. Itupun gue ambil dari pengalaman sendiri. Jadi bagi loe-loe yang belum move on, BURUAN PUTUSKAN! Mau Move On atau Bertahan! Jangan buang-buang waktu percuma! Sementara mungkin masih banyak cinta lain yang menunggu kita di belahan dunia ini. Siapa yang bakal tau kalo ternyata jodoh kita orang bule kan? Tuhan itu adil. Kalo 'doi' emang bukan jodoh kita, ya udah. LEPASKAN! Takdir kita semua udah ditentukan Tuhan Yang Maha Esa. Kita tinggal jalanin aja."

Rabu, 29 Agustus 2012

Lagu Galau 3

Padahal udah mau tidur, tapi HP mbah dengan gantengnya muter lagu mantep dari Band Naff, favorit Mbah setelah Nidji. Lagunya sebenarnya udah lama, jaman kita-kita waktu SD atau SMP (untuk yang lahir tahun 1995-1997 dan sekitarnya). Udah pernah denger lagunya? Atau udah lupa? Tenang, gue ada link downloadnya.

Link Download: http://gudanglagu.com/n/naff/naff-bila-nanti-kau-milikku/

Temani.. Temani aku
Temani.. Temani aku
Bila nanti kau milikku
Bila nanti aku milikmu

Mencintaimu kurasakan begitu indah
Kasih sayangmu kurasakan sungguh sempurna
Ku bahagia bila ragamu di sampingku
Ku merasa tenang bila tanganmu memelukku

Temani.. Temani aku
Temani.. Temani aku
Menyayangimu kulakukan setulus hatiku
Mengagumi membuatku merasa tenang

Ku bahagia bila ragamu di sampingku
Ku merasa tenang bila tanganmu memelukku
Bila nanti kau milikku
Temani aku saat aku menangis

Bila nanti aku milikmu
Temani aku hingga tutup usiaku..
Bila nanti kau milikku
Temani aku saat aku menangis..
Bila nanti aku milikmu
Temani aku hingga tutup usiaku

Temani.. Temani aku
Temani.. Temani aku
Bila nanti kau milikku...
Bila nanti aku milikmu..


"Gimana? Seperti lagu-lagu sebelumnya, ngena banget nih lagu. Asik didengerin sama orang-orang galau, tapi gak mau terlalu tenggelam dalam kegalauan. Musiknya yang bisa buat kaki terus bergoyang mengikuti irama, suara yang khas penyanyi Naff yang lama, apalagi sambil bayangin kita sama si doi. Beh, asli kena!"

"Dan sama kayak lagu-lagu sebelumnya, Mbah Galau akan ngasih inti dari ini lagu. Menurut gue ya, inti lagu kesayangan gue ini, seorang laki-laki (di video klipnya) yang punya mimpi untuk ngedapetin seorang cewek yang jadi idola di dekatnya. Sayangnya dia cuma bisa bermimpi, dan berharap menanti kapan cewek itu bisa dekat sama dia. Persis gue banget. BANGET! Pernah ngebayangin jalan berdua sama Kekasih Idaman? Gue baru ngerasain.. Hahaha..."

See you in next song yes. Mbah udah ngantuk, asli.

Lagu Galau 2

Next, malam yang sama, beberapa menit setelah lagu pertama berputar. Skarang gue ngetik sambil dengerin lagu dari Band Gigi yang 'lagi-lagi'selalu sukses buat gue senyum sendiri. Setelah lagi '11 Januari', ada lagi lagu lama yang.. Ngeh. Judulnya 'Cinta Lalu'

Liriknya, ini dia:

Tiba-tiba ku teringat
Penggalan kisah cinta dulu
Bersamamu..

Kesalahan yang kau buat
Begitu pun kesalahanku
Hal yang wajar..

Ku menunggu, ku mengharap
Sekiranya kau kembali
Siapa tahu kau di sana
Tak berteman tak berkasih
Telepon aku… ( Ku menunggu )

Membandingkanmu
Dengan yang lain
Kehalusanmu yang teratas dan terbaik..

Ku menunggu, ku mengharap
Sekiranya kau kembali
Siapa tahu kau di sana
Tak berteman tak berkasih
Telepon aku… ( Ku menunggu )




"Huummm.. Punya Mantan kah? Putar ini lagu, tapi jangan dipikirin lagi tuh yang namanya 'mantan'. Ibaratnya, mantan tuh kayak foto-foto masa lalu, baiknya dikenang dalam album aja. Tapi gak menutup kemungkinan bakal ada yang namanya CLBK lagi ya? Kalo gue sih, mending mikir yang sekarang aja, kenape mesti mikir yang dulu-dulu. Iya gak? Hahaha.."


"Seperti lagu sebelumnya, gue (iya, Mbah maksudnya) ngasih inti dari ini lagu, MENURUT gue pribadi. Tapi bukan berarti gue bakal mengalami yang namanya CLBK ntu ya."

"Inti lagu ini menurut gue, seseorang yang bener-bener masih cinta mati sama yang namanya mantan, Dengerin aja, tiba-tiba aja dia keinget sama mantan, dan berharap tuk bisa balik lagi. Nah, bukan berarti yang gak punya mantan gak boleh denger ni lagu, pastinya. Semua orang nantinya pasti bakal ngerasain gimana enak/enggaknya punya mantan. Sampai ketemu lagi di lagu selanjutnya!"

Lagu Galau 1

 Yow guys, apa kabarmu sekalian?

Tengah malam ini, dikala suasana masih penuh kegalauan, gue (yang sekarang minta dipanggil dengan sebutan 'Mbah Galau') dengerin lagi yang lumayan menghibur dan memberi semangat nih. Entah apa cuma gue yang ngerasa lagu ini begitu 'WOW', atau gimana. Yang pasti lagu yang satu ini ngena banget di hati gue.

"Bingung dengan tingkah doi/pujaan hati loe? Merasa doi berubah ama loe? Galau karena merasa loe kurang sempurna untuk doi? Dalam lagu ini dibahas semua!"

Link Download: http://gudanglagu.com/p/petra-sihombing/petra-sihombing-pilih-saja-aku/

Cinta mengapa kau sengsara benci ku melihatnya
oh oh dia itu siapa bisa membuatmu merana
Cinta apa kau tak bahagia sini denganku saja
oh oh dia itu siapa aku ini lebih baik darinya

Jauh dalam hatimu aku tahu
Engkau ingin ada orang yang selalu
Mencinta dan memelukmu setiap waktu
Kalau dia tak mampu pilih saja aku

Cinta apa kau tak bahagia sini denganku saja
oh oh dia itu siapa aku ini lebih baik darinya
Jauh dalam hatimu aku tahu

Engkau ingin ada orang yang selalu
Mencinta dan memelukmu setiap waktu
Kalau dia tak mampu pilih saja aku

Ini hatiku untukmu
Percayalah padaku sayangku

Jauh dalam hatimu aku tahu
Engkau ingin ada orang yang selalu
Mencinta dan memelukmu setiap waktu
Kalau dia tak mampu pilih saja aku..


"Gimana? Udah didengerin? Ada komentar? Kalo menurut Mbah, ni lagu cucoknya untuk yang lagi pada Jomblo kan ya? Yang udah relationship kayaknya gak bakal ngena dah. Bagian reff nya itu yang gue suka banget!"

'Kalau dia tak mampu, pilih saja aku.' --> Ini kata-kata favorit gue sekarang. "PILIH SAJA AKU!"

"Yah bagi gue intinya sih, gak mesti cakep atau kece untuk dapet seseorang yang kita suka. Asal kita punya waktu sama cinta, kagak jadi masalah. Ya gak? Mudah-mudahan ini lagu bisa ngasih inspirasi bagi loe-loe yang udah dengerin ya? Okeh, lanjut!"

Jumat, 24 Agustus 2012

Ada yang Hilang


Aku hanya bisa terdiam
Melihat kau pergi
Dari sisiku, dari sampingku
Tinggalkan aku

Seakan semuanya yang pernah terjadi
Tak lagi kau rasa..!

"Cinta itu bisa nyenengin banget
Tapi juga bisa sangat nyakitin"

Masih adakah tentang aku di hatimu?!
Yang kau rasakan? coba kau rasakan!
Mudahkah bagimu untuk hapuskan
Semua kenangan bersama denganku?

Tak pernah sedikitpun aku bayangkan..
Betapa hebatnya cinta yang kau tanamkan
Hingga waktu beranjak pergi
Kau mampu hancurkan hatiku!

Ada yang hilang dari perasaanku..
Yang terlanjur sudah kuberikan padamu
Ternyata aku tak berarti tanpamu
Berharap kau tetap di sini..
Berharap dan berharap lagi...!!!

Minggu, 08 Juli 2012

Indah Ku Ingat Dirimu

Kurasakan salah langkahku
Kurasakan salah inginku
Sulitku hempas bayanganmu
Sulitku hempas kegalauan

Salah kau curahkan hatimu
Berkasih dengan sahabatku
Anganku jauh dari itu
Anganku menggoyah imanku.

Indah kuingat dirimu
Bilang ingin kau bertemu
Meski terlarang untukmu..

Jauh di sudut hatiku
Tersimpan pesan untukmu
Tinggalkan saja pacarmu...